Laman

Sabtu, 06 Juni 2020

IC-9100 Error

Pagi ini saya mencoba QRV pada frekwensi 50.313 Mhz, alokasi untuk mode FT8. Seperti biasa, nyalakan PS kemudian radio IC-9100 bersamaan dengan booting laptop. Dilanjutkan menjalankan WSJT-X 2.2.0 yang merupakan update terbaru, baru saja semalam terinstall. Semua berjalan lancar sampai pada prosedur rutin, check pemancar.

Setelah PA dinyalakan, click tombol tune pada WSJT-X, TX on, semua normal namun power tidak keluar. Tidak terdengar tone seperti biasanya...Check setting semua normal. Coba hard reset IC-9100, tidak berjalan mulus, di layar hanya muncul 'clone' di pojok kiri bawah, setelah dimatikan dan dinyalakan lagi, radio sudah ter-reset.

Kembali mencoba jalankan tune...TX normal tapi tone tidak terdengar. Otak-atik menu, setting sudah benar. Coba lagi reset pesawat, muncul lagi 'clone' di pojok kiri bawah, Namun kali ini setelah pesawat dimatikan kondisi tidak berubah. Pesawat hang...hanya muncul tulisan 'clone'.

Segera saja browsing ke grup IC-9100 sekalian download repair manual. Tak menemukan jawaban di grup. Bingung..Akhirnya  cabut kabel power jadi pilihan, pilihan ngawur sebenarnya. Kemudian kabel power ditancapkan lagi dilajutkan tekan power ON. Alhamdulillah....radio nyala kembali dengan normal.

Coba lagi jalankan WSJT-X, tekan tone, TX normal namun masih juga belum keluar tone. Ganti dengan MSHV, sama nasibnya. Kemudian ganti nyoba DM780 bawaan HRD, TX normal namun masih juga belum keluar modulasi.

Pilihan berikutnya, reinstall driver IC-9100, walaupun di PC sudah ada namun pilih mendownload lagi. Mengikuti petunjuk dari Icom, driver lama di uninstall...dilanjutkan reinstall driver. Proses lancar. Uji coba lagi dengan WSJT-X, tekan tune...memancar dan keluar tone. Alhamdulillah, semua kembali normal. Segera reinstall WSJT-X 2.2.0.

Kesimpulannya, error ada pada driver soundcard IC-9100, pernah terjadi setelah update windows, kemungkinan hal yang sama terjadi lagi. Cabut power cord menjadi alternatif bila pesawat hang.

Rabu, 01 April 2020

First EME 6 meter Indonesia - USA

Setelah mencoba berbulan-bulan akhirnya malam ini terjadi komunikasi lengkap JT65A melalui pantulan bulan atau Earth Moon Earth , EME, antara YB2MDU dan W7GJ di USA.Sebenarnya dari beberapa kali percobaan hampir 99% sinyal W7GJ selalu bisa terdekode, namun dia hanya berhasil mendekode sinyal YB2MDU satu atau dua kali saja.

Percobaan QSO diawali dari bulan Februari 2017, waktu itu antenna 6 meter masih terpasang sejajar di atas antenna tribander 10 meter, 15 meter dan 20 meter pada tower setinggi 18 meter. Percobaan pertama gagal, lantas W7GJ menyarankan agar antenna 6 meter di pasang dengan arah 90 derajat berbeda dengan antenna tribander.

Perubahan antena tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya putuskan menurunkan antenna dan memindahkannya terpisah dari antenna tribander. Dengan ketinggian sekitar 7 meter dari atas tanah,   antenna 7 elemen yagi YU7EF 0607 siap digunakan. Arah antenna diputar secara 'ototer' karena antenna hanya akan bekerja saat Moon Rise atau bulan terbit dan Moon Set atau bulan terbenam.

27 November 2018 adalah saat pertama sinyal W7GJ bisa terdekode. Sinyalnya lumayan kuat -25 db. Namun sayang dia tidak berhasil mendekode sinyal YB2MDU. Percobaan demi percobaan dilakukan, cukup mudah menerima sinyal W7GJ namun karena saya hanya memancar 100 watt, dia belum berhasil mendekode sinyal yang kukirim.

W7GJ berinisiatif mengirimkan power amplifier dari USA. PA ini mampu mengeluarkan daya sampai dengan 300 watt. Menggunakan DHL kiriman tersebut segera sampai di Jakarta, terlacak di web bea cukai kiriman tersebut tertahan. Saya coba minta tolong YB0AN, Pak Hakim, untuk menanyakan ke bea cukai, jawabnya mencengangkan, bea yang harus kutanggung 15 juta rupiah.

Saya bilang ke Lance bahwa tidak mungkin membayar bea masuk sebesar itu, lagian ini barang bekas. Untungnya PA ini diasuransikan, artinya kalau tidak sampai ke alamat tujuan maka barang tersebut akan dikirim kembali ke pengirim. Saya kirim email ke bea cukai bahwa saya tidak membutuhkan barang tersebut. Akhirnya benda itu balik lagi ke Amerika.

Muncul ide untuk memperpanjang boom, kali ini saya coba 0610 design YU7EF, sempat juga kirim email kepadanya untuk konsultasi. Antenna ini panjang boomnya 15 meter dengan 10 elemen terpasang pada ketinggian sekitar 8 meter.

Singkat cerita dengan antenna sepanjang 15 meter ini, W7GJ masih juga belum bisa mendekode sinyal yang saya kirim. Kesimpulannya masih sama, kekurangan power, walaupun gain antenna sudah ditambah namun power 100 Watt belumlah cukup. 

Akhir desember 2018, saya order PA 50 Mhz kepada YB2XI, Pak Nur di Jogja. Design menggunakan BLF188XR. Beruntung mendapatkan 2 buah dengan harga cukup murah di eBay. Namun sayang keduanya meletus...gagal. Kemudian dicoba menggunakan MRF150, namun lagi-lagi gagal, LPF berasap dan power tidak bisa mencapai yang diinginkan. 

PA 50 MHz memang jarang digunakan di Indonesia, beberapa kali tanya teman barangkali ada yang punya namun tidak menemukannya. Paling yang ada hanya PA built up HF + 6 meter yang cukup mahal.

Pertengahan  Juli 2019, muncul ide menggunakan tabung. Jatuhlah pilihan pada GS35B. Searching di pasar lokal, harganya cukup mahal. Mencoba menghubungi teman di Eropa barangkali ada barang murah di sana. Lewat bantuan EA8DBM, Alex, pada akhir Desember 2019 saya memesan dua buah GS35B. Kebetulan dia sedang jalan-jalan ke Rusia, ada temennya yang jualan di sana. Harganya jelas lebih murah daripada di Indonesia.


Sambil menunggu kiriman GS35B datang, ada khabar baik dari Jogja, dengan palet baru, PA siap di uji coba. Meluncurlah saya ke Jogja seperti beberapa kali saya lakukan. Dari rumah membawa IC-9100 untuk uji coba. Sesampai di sana segera melakukan uji coba. Alhamdulillah, power keluar 500 Watt stabil, tidak ada yang mengeluarkan asap. 

14 Januari 2020, pukul 15.14 UTC atau 22.14 WIB, saat yang ditunggu-tunggu datanglah. Antenna sudah mengadap ke timur menuju arah bulan terbit. Tiba-tiba muncullah trace pada waterfall pada 14.50 UTC, elevasi bulan sekitar 8 derajad. Double klik pada trace tersebut...Alhamdulillah, W7GJ mengirim message 'OOO' yang menandakan dia telah menerima panggilan saya.

Selanjutnya saya kirimkan message 'RO' sebagai balasan bahwa "OOO" dari W7GJ telah terdekode. Sebenarnya sampai di sini komunikasi EME telah dianggap sukses. Namun umumnya harus diakhiri dengan mengirim message "73". Beruntung, baik saya maupun W7GJ sukses mengirimkan "73".

Saya rasa ini adalah kejadian pertama komunikasi EME 6 meter antara Indonesia dan USA. Kalau mengunakan pantulan ionosfir barangkali sudah pernah terjadi, hanya saja saya belum menemukan datanya. Hari-hari selanjutnya, mulai masuk beberapa email, mengajak melakukan QSO 6 meter melalui EME. Sebagian ajakan terpenuhi dan berakhir sukses, baik itu di benua Amerika saat bulan terbit maupun di benua Eropa saat bulan menjelang tenggelam.

Antenna masih belum optimal karena hanya bisa dipakai saat bulan terbit dan tenggelam. Mengarahkannyapun masih manual, dengan petunjuk kompas dan software penunjuk posisi bulan.. Ke depannya antenna mesti dibuat bisa memutar dan mendongak secara remote. 

Minggu, 01 Desember 2019

Trakbox for IC-9100

Berminggu-minggu mencari cara untuk menghubungkan MAP65 ke Icom IC-9100 agar setiap perubahan frekwensi RX di MAP65 akan diikuti perubahan frekwensi pada IC-9100. VE6XH telah menyarankan untuk menggunakan aplikasi kecil Trakbox, namun ketika kucoba melakukan setting CAT ternyata tidak tersedia IC-9100 pada list radio. Berulang kali mencoba merubah parameter dari mulai alamat CI-V, baud rate, com property dan  lain-lain, ternyata tidak membuahkan hasil.

Terpikir untuk membuat aplikasi sendiri dengan VB.net namun tidak segera selesai, karena minimnya referensi. Sudah sempat donwload contoh script hamlib namun belum sempat membukanya, sehingga proyek tersebut belum juga berhasil.

Malam ini saat melakukan QSO EME dengan PA5Y, tiba-tiba dia mengirim WA mengatakan bahwa offsett frekwensi TX terlalu turun sampai 250 hz. Dia menyarankan untuk memakai trakbox agar frekwensi TX sinkron dengan frekwensi RX dari MAP65. Aku sampaikan bahwa aku sudah mencobanya namun belum berhasil menghubungkannya ke IC-9100. Dia mengatakan tunggu sebentar, itu hal mudah. Kemudian dia mengirim capture setting trakbox miliknya. Segera aku coba sesuai dengan setting yang dikirim Conrad, PA5Y. Aku coba mengklik pada display MAP65, kemudian mengklik Set TX Freq, Alhamdulillah, display frekwensi pada IC-9100 bisa berubah mengikuti MAP65.

Berikut setting trakbox untuk semua tranceiver ICOM.


Sedangkan tampilan traxbox sendiri adalah sebagai berikut:



Rabu, 16 Oktober 2019

Connecting Linrad to MAP65

Akhirnya saya harus menggunakan Linrad yang konon katanya kependekan dari Linux Radio. Semula otak ini masih belum bisa menerima mengapa harus menggunakan Linrad karena antara Linrad dan RSPDuo sudah ada HDSDR yang bisa langsung dihubungkan ke MAP65.
Saya sempat tanyakan kepada Dan VE6XH yang menyusun petunjuk cara menghubungkan RSPDuo ke MAP65.

Ternyata memang tidak bisa meninggalkan Linrad kalau ingin MAP65 berfungsi sebagaimana mestinya. Tanpa Linrad, MAP65 hanya bisa mendekod sinyal dengan 1 polarisasi saja, sebaliknya bila memakai linrad maka semua polarisasi bisa terdekod mulai dari Horizontal, Vertikal bahkan sudut tertentu yang diinginkan misalnya 45 derajad atau 135 derajad. Jadi dari linrad bisa keluar sampai 5 output, kombinasi H dan V, H atau V saja, 45 dan 135 derajad. 

Sementara yang terinstal sekarang hanya Linrad ke MAP65. Linrad menerima data dari 2X HDSDR, satu untuk polarisasi Horizontal, satunya untuk polarisasi Vertical. HDSDR menerima input dari RSPDuo melalui IOExt. Cukup panjang prosesnya, ada 4 buah aplikasi yang dijalankan dalam satu waktu untuk memproses sinyal dari bulan sehingga bisa terbaca pesan yang diterima. Aplikasi tersebut adalah 2X HDSDR, Linrad dan MAP65. 

Saya sedang mempersiapkan petunjuk instalasi RSPDuo untuk EME berdasar tulisan VE6XH. 


Selasa, 03 September 2019

Andai bulan setinggi 5500 km seperti kata kaum bumi datar.

Sabtu , 31 Agustus 2019, pagi itu sesuai dengan janji yang sudah disepakati dengan W7GJ, Lance dari USA, untuk kesekian kali kami mencoba komunikasi EME pada 50 MHz walaupun kami tahu kemungkinannya sangat kecil karena saya masih memancar QRP, hanya 100 Watt.

Menurut software Daff Moon,  pagi itu bulan akan terbit di OI53KD pukul 6.20 WIB, untuk itu sebelum jam 6,  radio sudah terkoneksi dengan laptop dan antenna secara manual terarah 70 derajat ke posisi bulan terbit.

Di DN27ub, Missoula USA ada selisih waktu 11 jam dengan OI53kd, jadi di sana jam 5.20 sore. Posisi bulan di sana menurut software Daff Moon adalah 35 derajat dengan jarak 13.831,5 km. Bisa dibayangkan, bulan setinggi 35 derajat ke arah 243 derajat (azimuth) sedangkan di Kudus baru mulai terbit.



Posisi Bulan di Kudus


Posisi bulan di Missoula


Menyimpang sedikit dari pembahasan EME, kaum bumi datar atau flat earth / FE mengklaim bahwa tinggi bulan sekitar 5500 km dari permukaan bumi. Dengan ketinggian segitu dan dengan bumi yang datar maka seharusnya pada ketinggian 35 derajat dari Missoula USA maka bulan sudah kelihatan dari Kudus Indonesia, karena jarak keduanya hanya 13.831,5 km. Kalau mau menghitung sekitar 42 derajat dari Kudus, namun sekali lagi faktanya ketika bulan terlihat 35 derajat dari Missoula USA, di Kudus baru terbit.

Seandainya bulan hanya setinggi 5500 dan bumi adalah datar, maka komunikasi EME akan sangat mudah dilakukan dan hanya butuh power TX yang kecil saja. Ketinggian segitu setara jarak Kudus ke Jepang, sedangkan komunikasi direct ke Jepang melalui HF sangat mudah dilakukan. Namun faktanya, komuniksi EME adalah komunikasi tersulit bagi amatir radio, power harus besar begitu juga antennanya harus punya gain yang tinggi.

Karena jarak bumi bulan menurut science modern rata-rata adalah 384 rb km maka komunikasi EME akan menempuh jarak sekitar 768 km. Kecepatan gelombang radio adalah 300 km/detik maka pada komunikasi EME, sinyal radio membutuhkan waktu sekitar 2,5 detik. Dengan menggunakan WSJT-x maka waktu tempuh ini akan terlihat dalam kolom DT, dan ini yang dipakai patokan oleh EME-er untuk menentukan sinyal yang diterima tsb sinyal EME atau bukan. Bila DT sangat kecil, misalnya 0,1 detik bisa dipastikan itu bukan sinyal EME karena hampir tidak ada jeda waktu antara sinyal dikirim dan diterima, sebaliknya bila DT sekitar 2 detik maka hampir bisa dipastikan itu sinyal EME.

Kembali ke EME 6 meter, akhirnya tiba waktunya bulan terbit di Kudus, secara bergantian kami mengirim message melalui WSJT-X di frekwensi 50.190 USB dengan mode JT65A. Pada elevasi 4 derajat, sinyal W7GJ sudah mulai terlihat di waterfall dan berhasil terdecode, namun dia belum juga berhasil melihat trace di waterfallnya.

Pada elevasi sekitar 12 derajat, di waterfall terlihat trace RO sebagai konfirmasi bahwa dia telah menerima message. Namun sayang trace tersebut gagal terdecode walaupun jelas terlihat tracenya.
Akhirnya pada elevasi sekitar 15 derajat, komunikasi dihentikan dengan kesimpulan kedua stasiun berhasil menerima message namun tidak terkonfirmasi dengan sempurna.




Senin, 02 September 2019

Satelit

Ngikuti twitter hari ini masih ada yang tidak percaya adanya satelit. Saya jadi teringat waktu satelit Lapan A2 atau IO-86 sedang diluncurkan melalui roketnya orang India pada tanggal 28 September 2015.
Waktu itu saya sempat mengikuti proses peluncuran melalui streaming langsung dari tempat peluncuran mulai dari pidato pembukaan, proses peluncuran sampai proses pelepasan satelit di ruang angkasa.

Selanjutnya saya termasuk sebagian orang yang berkesempatan mencoba Voice Repeater / VR Satelit Lapan A2 beberapa waktu setelah peluncuran. Waktu itu Om Mubin YB3MBN di Bekasi melakukan uji coba dengan memancar pada mode FM. Sedangkan saya di kota Kudus hanya memonitor saja. Hasilnya mulai satelit muncul dari barat sampai tenggelam di timur dalam waktu kurang lebih 15 menit suara Om Mubin berhasil saya dengarkan dengan bagus. Hasil rekaman bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=laETSMkTLk0 .

Saya yang mengikuti peluncuran satelit walau lewat streaming kemudian mencoba VR tentunya merasa tidak enak terhadap kaum yang meragukan adanya satelit, antara tidak percaya atas sikap  mereka dan kasihan karena mereka belum mampu membayangkan adanya satelit.

Sebelumnya beberapa satelit yang menyediakan VR telah saya coba seperti SO-50 milik Saudi atau FO-29 yang menggunakan mode SSB.

Intinya, satelit itu ada.

Minggu, 01 September 2019

Ganti Callsign.

Sehubungan callsign baru sudah keluar maka blog ini saya ganti dari yc2mdu.blogspot.com menjadi yb2mdu.blogspot.com.