Laman

Kamis, 08 Juni 2017

EME (Earth Moon Earth)

EME (Earth Moon Earth) atau moon bounching adalah cara berkomunikasi dengan cara memancarkan gelombang radio ke bulan sehingga memantul kembali ke bumi. Jadi perjalanan gelombang dari bumi - bulan - bumi, makanya populer disebut earth moon earth.

Ide untuk memanfaat bulan sebagai satelit komunikasi pasif berasal dari W.J. Bray pada tahun 1940. Secara perhitungan dengan menggunakan pemancar gelombang mikro dan low noise receiver, dimungkinkan untuk mengirimkan sinyal gelombang mikro dari bumi untuk dipantulkan oleh bulan.

Ada apa dengan EME?

  • EME sangat mengasyikkan!
    • Hal paling mengasyikkan dalam radio amatir adalah melakukan kontak yang jarang, tidak umum atau sulit. EME adalah puncak pencapaian dari radio amatir.
  • Memungkinkan melakukan DX ke seluruh dunia pada band 6 meter ke atas.
    • Pada band 6 meter ke atas hanya dengan EME kita bisa melakukan DX di seluruh dunia
  • Memotivasi kita untuk belajar tentang teori komunikasi
    • Meliputi propagasi, noise, antenna phasing, polarisasi, tracking obyek angkasa dll.
  • Mendorong kita untuk membuat antenna yang lebih baik
    • Tidak ada yang menjual antenna untuk EME komplit secara komersial.
referensi: wikipedia, VE2ZAZ

Sabtu, 17 Desember 2016

Atomic Clock for JT65

Bermain JT65 dan atau JT9 membutuhkan jam komputer yang presisi. Selisih waktu beberapa detik saja membuat message tidak terdekode dengan baik, akibatnya hanya sebagian atau bahkan seluruh data tidak terdekode.

Kemarin seorang teman mempunyai problem seperti yang saya sampaikan. Setelah  menginstall wsjt-x ternyata di band activity tidak muncul apapun padahal bunyi nada station yang sedang aktif terdengar sangat jelas. Beliau sudah menginstall Meinberg Network Time Protocol yang diambil dari http://www.satsignal.eu/ntp/setup.html namun ternyata tidak bisa konek ke server.

Saya kemudian membantunya dengan menginstal Dimention4 yang terdapat di http://www.thinkman.com/dimension4/ secara remote menggunakan Team Viewer . Namun setelah saya jalankan ternyata mengalami problem yang sama, tidak bisa konek ke server. Saya kemudian coba menggunakan setting internet time bawaan windows, hasilnya juga sama.

Sudah tiga aplikasi dicoba ternyata tidak membuahkan hasil, saya kemudian googling lagi mencari aplikasi untuk mensinkronkan waktu. Menemukan http://www.worldtimeserver.com/atomic-clock/ dan segera saja didownload dan diinstall dengan harapan bisa berhasil karena belum pernah menggunakan aplikasi ini sama sekali. Alhamdulillah, akhirnya dengan aplikasi kecil ini jam komputer bisa dicocokkan. Segera terlihat di waterfall wsjt-x, tidak ada grafik sinyal yang mendahului garis start. Tunggu sampai 50 detik, akhirnya band activity dipenuhi stasiun yang sedang aktif.

Kamis, 29 September 2016

TQSL lagi.

Kembali harus berurusan dengan TQSL. Sebuah software kecil untuk meng upload log ke server LoTW. Bermula dari reinstall windows 7 pada laptop yang sehari-hari saya gunakan untuk kegiatan QSO. Semua software terhapus, mau tidak mau harus reinstal TQSL. Saat ini sudah mencapai versi 2.2.2.

Selesai menginstall tiba saatnya meminta sertifikat TQ6. Tanpa sertifikat ini software tidak akan bisa digunakan untuk mengupload log. Caranya cukup sederhana asalkan tersedia jaringan internet maka permintaan sertifikat ini akan berlangsung cepat. Akhirnya setelah beberapa menit ada email masuk dari admin LoTW berisi sertifikat TQ6. File kemudian saya download untuk selanjutnya dijalankan. TQSL sudah mendapatkan Callsign certificate, siap digunakan untuk mengupload log.

Kali ini log yang hendak saya upload adalah log hasil mengikuti contest CQWWRTTY pada hari sabtu dan minggu kemarin. Dengan beberapa kali klik akhirnya log siap diupload. Tapi apa yang terjadi, ternyata ada warning bahwa log yang bisa diupload hanya untuk QSO mulai hari ini. Wah, ternyata ada yang salah saat mengajukan sertifikat tadi. Jadi, sertifikat TQ6 akan membatasi periode QSO yang bisa diupload sesuai dengan batas yang diajukan saat pengajuan sertifikat. Rupanya tadi saya kurang teliti dalam menset tanggal batas.

Coba saya ajukan lagi sertifikat baru dengan batas tanggal saya buat tahun 2014. Setelah terkirim, dalam waktu kurang dari 15 menit sudah dapat balasan email dari admin TQSL. Ini kemajuan yang signifikan, dulu butuh berhari-hari untuk mendapatkan sertifikat ini.

Proses diulang lagi, jalankan TQSL, coba upload log dan alhamdulillah, semua berjalan lancar. Log CQWWRTTY semua sukses terupload ke server LoTW.

Senin, 28 Maret 2016

I will always send my full call sign

Hari sabtu dan minggu kemarin saya mengikuti CQWPX SSB contest. Targetnya tidak terlalu muluk, 100 QSO sudah cukup dengan mengambil kategori 'single operator all band low power', artinya operatornya cuma satu dan bekerja pada semua band dengan power tidak lebih dari 100 watt.

Walaupun bekerja pada semua band, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Untuk tingkat penggalang / YC, tidak boleh bekerja pada band 20 m di atas frekwensi 14.150 Mhz. Itulah aturan di Indonesia, sebaiknya diikuti saja. Dan untungnya ternyata ada beberapa statiun DX yang bekerja di bawah frekwensi 14.150 Mhz.

Semua band saya coba masuki, dari mulai 160 m sampai dengan 10 m. Hasilnya, pada band 160 m tidak berhasil mendengarkan satupun stasiun. Beralih ke 80 m, ada 2 stasiun dari call area 1 yang berhasil masuk log, dan satu stasiun dari call area 9.

Pada band 10 m nasibnya seperti 80 m, hanya beberapa gelintir stasiun DX yang berhasil masuk log. Sedangkan pada band 20 m masih agak lumayan. Paling banyak QSO di band 15 meter, puluhan stasiun DX yang berhasil masuk log.

Akhirnya nyoba di 40 m atau 7 mhz. Beberapa stasiun DX bisa masuk log, namun di band ini terasa tidak nyaman. Sepertinya band ini cukup favorit bagi temen-temen yang baru belajar contes, ini sebuah kemajuan. Hanya saja ada sesuatu hal yang selalu menjadi ciri khas AR Indonesia, mereka kebanyakan hanya menyebutkan suffik callsign mereka saja di saat manggil stasiun lawan. Jadi kalau misalnya callsign mereka adalah YC2MDU, mereka hanya menyebutkan MDU gitu saja, dan ini sering membingungkan stasiun lawan. Mungkin mereka terbiasa dengan kegiatan net lokal yang hanya menyebutkan suffik saja. Dan ini hanya dilakukan oleh AR Indonesia. Tidak siaga, tidak penggalang, tidak penegak, ada saja yang melakukan itu.

Barangkali hal ini terjadi karena mereka jarang membaca atau tidak ada yang mengajari atau memang tidak mau mengikuti aturan. Di internet tersebar DX Code of Conduct yang salah satunya berbunyi " I will always send my full call sign", tampaknya butir ini yang tidak pernah mereka pahami.



Selasa, 25 Agustus 2015

Easy Rotor Controller for KR-600

Easy Rotor Controller adalah pengontrol rotor atau rotator antenna yang bisa dikendalikan melalui HID, Human Interface Device berupa tombol atau dikendalikan melalui komputer dengan software pengontrol rotor. ERC dapat diperoleh di http://easy-rotor-control.com/ .



Menurut pembuatnya, ERC kompatible dengan hampir semua jenis rotor antenna. Saya hendak mencoba mengontrol rotor yang saya miliki dengan komputer. Saat ini terpasang KR-600 buatan Kenpro, sebuah rotor yang cukup tua dan sudah tidak diproduksi lagi oleh Kenpro. Jenis terbaru yang serupa dengan KR-600 adalah G-600 produk Yaesu.

Singkat cerita, pada suatu hari datanglah kit ERC-M dari Jerman melalui pos. Tapi saya harus membayar hampir 200 ribu rupiah untuk mengambilnya, kata pak Pos mungkin itu biaya untuk bea cukai. ERC-M mempunyai kemampuan untuk mengontrol dua buah rotor sekaligus, bisa mengontrol satu rotor azimuth, atau 2 azimuth atau 1 azimuth dan 1 elevation.

Ternyata jarak lubang PCB cukup rapat, untunglah tersedia solder dengan ujung yang cukup lancip dan kaca pembesar. Akhirnya selesai sudah menyolder seluruh komponen pada PCB, dilanjutkan dengan membersihkan sisa-sisa pasta dengan tinner. Terakhir dibersihkan dengan air sabun, hasil solderan jadi kelihatan bersih.

Langkah berikutnya adalah pengujian tegangan kerja dari rangkaian. Tersedia dua pin untuk mengukur tegangan 5V dan 12V. Alhamdulillah, hasilnya bagus. Rangkaian kemudian dihubungkan ke PC melalui port USB. Dengan software bawaan ERC maka pengujian rangkaian sudah bisa dilakukan. Pertama yang diuji adalah relay, dengan mengklik tombol test maka relay akan bekerja berurutan, proses yang cukup sederhana.

Pengujian selanjutnya adalah kalibrasi untuk menentukan titik dimana rotor berhenti. Rotor harus diputar ke kanan sampai berhenti, kemudian sudutnya dimasukkan ke software, disimpan. Sebaliknya juga begitu, rotor diputar kekiri sampai berhenti lantas dicatat sudutnya dalam software.

Tibalah saat mencoba menjalankan rotor melalui PC. ERC menyediakan software controller untuk mengatur arah rotor. Dengan mengklik arah tertentu atau menuliskan derajat arah yang dituju, maka rotor akan bergerak kesana. Saat software dijalankan, jarum penunjuk mengarah ke utara. Coba klik 30 derajat, jarum tidak mau bergerak, tapi ternyata antenna sudah berputar ke kanan. Klik lagi ke 0 derajat, hasinya mengecewakan, jarum tidak bergerak sedangkan rotor tetap berputar ke kanan, seharusnya ia berputar ke kiri kembali ke 0 derajat.

Proses pengujian dan kalibrasi dijalankan lagi. Sejauh ini semuanya berjalan baik, namun ketika digunakan untuk mengontrol rotor, rotor hanya mau berputar ke kanan. Bolak-balik lihat skema dan melakukan proses pengujian dan kalibrasi, hasilnya rotor tetep hanya mau berputar ke kanan.

Capek sudah melakukan uji coba, jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, mata sudah terasa berat. Menyerah, mau dilanjut besok lagi. Sebelum mematikan PC, iseng-iseng feedback tegangan dari rotor dibalik, jadi sudah tidak sesuai skema lagi. Coba jalankan software, klik ke kanan....lho jarumnya kok bisa bergerak, klik sebelah kiri, jarum kembali ke kiri. Alhamdulillah, ternyata polarisasi feedback tegangan dari rotor terbalik.

Nggak jadi tidur, sekarang coba jalankan HRD rotor. Klik connect...sukses, klik arah tertentu ke semua posisi sesuai map. Jalan sempurna, kurang puas, coba jalankan MixW. MixW punya rotator kontroller juga, setelah terhubung, klik arah tertentu, jarum indikator bergerak ke arah yang dituju. Asyiik, ternyata jalan juga di MixW, alamat besok kalau ada kontes, rotator akan kecapekan mengejar lawan.

Ngantuk, akhirnya tidur...






Rabu, 13 Mei 2015

Baofeng UV-5RA Repeater Setting

Bagaimana mensetting memory HT murah meriah Baofeng UV-5RA? Di link berikut ada petunjuknya. Cara mensetting Baofeng UV-5R untuk orang idiot

Intinya harus dilakukan dua kali penyimpanan pada channel yang dikehendaki. Pertama menyimpan frekwensi output dari repeat pada channel yang dikehendaki, berikutnya dilanjutkan menyimpan frekwensi input dari repeater pada channel yang sama. Selamat mencoba.

Senin, 16 Februari 2015

FCC Exam

Hari ini saya baca pengumuman ujian Orari di sebuah ORDA baik untuk anggota baru maupun untuk naik tingkat. Membaca persyaratannya terasa sangat rumit dibanding dengan ujian FCC / FCC Exam yang pernah saya ikuti beberapa waktu yang lalu.

FCC exam jauh sekali lebih sederhana dari ujian Orari. Tawaran FCC exam datang dari Volunteer Examiner (VE) yang saya kenal dari Facebook. Syarat mengikuti hanyalah membayar 15 USD dan mempunyai alamat surat menyurat di USA, itu saja. Sudah barang tentu saya harus belajar soal-soal ujian FCC. Untungnya bank soal ujian FCC banyak tersedia di internet.

Sebenarnya tawaran untuk ikut FCC exam sudah lama saya dapatkan, namun karena belum semua soal saya pelajari maka saya baru bisa mengikuti baru pada akhir tahun 2014. Akhirnya setelah bank soal untuk semua tingkat sudah saya terbaca, barulah saya berani menghadiri FCC exam.

FCC exam memungkinkan seseorang mengikuti ujian untuk tiga tingkat sekaligus dengan sekali bayar. Syaratnya semua level dibawahnya harus lulus untuk mengikuti ujian level berikutnya dihari itu juga. Untuk peserta baru maka dia harus mengikuti ujian Technician class sebagai level terendah, mungkin selevel dengan Siaga di ORARI, bedanya semua soal disajikan dalam bahasa inggris. Nah, setelah lulus dari Technician class, peserta boleh melanjutkan mengikuti ujian General class tanpa harus bayar lagi. Bila di General class peserta juga lulus, maka dia berhak mengikuti ujian level tertinggi yaitu Extra class tanpa harus bayar lagi. Disinilah enaknya, sekali bayar 15 USD bisa pulang dengan membawa lisensi tertinggi setara YB di Orari.

Untuk semua level, apabila peserta tidak lulus, dia berhak mengulang lagi dengan syarat membayar lagi 15 USD. Tidak ada batas jumlah pengulangan selama peserta masih sanggup membayarnya dihari itu juga.

Kebetulan pada waktu FCC exam saya bisa melalui semua level tanpa harus mengulang. Di hari itu saya pulang langsung membawa CSCE / Certificates of Successful Completion of Examination untuk Extra class, semacam SKKAR di ORARI. Enaknya lagi, dalam satu minggu maka callsign akan segera dikeluarkan. Lisensi yang dikeluarkan oleh FCC akan berlaku selama 10 tahun.

Sekarang saya mempunyai callsign Extra Class K2MDU yang sayangnya tidak bisa digunakan di wilayah Indonesia. Namun karena dari awal niat saya hanya sekedar menguji kompetensi pribadi di bidang amatir radio maka hal ini tidak menjadi masalah. Minimal saya tahu aturan umum amatir radio yang berlaku global.