Laman

Selasa, 31 Januari 2023

EME 23 cm / 1296 MHz (lanjutan... 1)

Penggerak Dish 

Design dish antenna 4,5 meter dengan f/D 0,45 sudah saya serahkan kepada Pak Azis. Bahan-bahan terutama pipa alumunium dibeli dari toko lokal di Kudus. Sedangkan saya sendiri browsing mencari kasa aluminium di toko online. 

Setelah beberapa bulan jadilah dish antenna tersebut lengkap dengan dudukannya. Sekarang perlu memikirkan penggeraknya. Dish harus bisa bergerak atau berputar secara horisontal dan bergerak secara vertical, tujuannya agar dish tersebut bisa mengikuti posisi bulan.

Untuk pergerakan secara horisontal sebenarnya bisa menggunakan rotator komersial namun harganya cukup mahal. Selain itu akurasi dari rotator pada umumnya adalah 5 derajat, sehingga harus dimodifiksi untuk mendapatkan akurasi yang lebih kecil. 

Akhirnya pilihan jatuh pada worm gear ditambah motor penggerak. Motor penggerak diambil dari motor actuator parabola. Sebenarnya dibutuhkan worm gear dengan perbandingan yang besar, namun di toko online hanya mendapatkan worm gear dengan rasio 1:60. 

Sedangkan untuk pergerakan vertikal, paling murah adalah menggunakan actuator parabola. Pergerakan vertikal hanya pada range 0 sampai 90 derajat, jadi mulai posisi mendatar sampai tegak lurus.

Pergerakan antenna mengikuti track bulan harus secara otomatis. Mungkin bisa dilakukan secara manual namun akan sangat merepotkan. Untuk ukuran dish ini yang bekerja pada frekwensi 1,2 GHz, idealnya menggunakan pengontrol dengan akurasi 0,1 derajat. Sayangnya kontroler yang tersedia hanya mempunyai akurasi 0,5 derajat. 

Tersedia ERC rotator controller yang menggunakan sensor tegangan untuk menentukan posisi, jadi perlu disediakan sensor sudut yang bisa mengeluarkan tegangan dan bisa berputar 360 derajat. Setelah browsing ketemulah sensor sudut dengan input 5 volt dan output dari 0 sampai dengan 5 volt. Output dari sensor menjadi input dari ERC controller untuk selanjutnya dikonversi ke dalam sudut dari 0 sampai dengan 360 derajad.

Power Amplifier

Power Amplifier 1,2 GHz sangat sulit didapatkan di Indonesia. Para pengrajin booster juga belum punya pengalaman membuat PA pada frekwensi ini. Setelah browsing menyesuaikan ketersedian dan harga, akhirnya pilihan jatuh pada palet 23 cm produksi VHF Design dari Ukraina. 

PA 23 cm produk VHF Design bentuknya kompak berukuran sekitar 10x10x3 cm. Dilengkapi dengan kontroler yang berisi squencer sekaligus alat ukur parameter pemancar seperti arus, daya, swr serta suhu.

Pemesanan berjalan lancar, hanya saja saat harus membayar terjadi sedikit masalah. Saat itu perang baru saja mulai antara Ukraina dan Russia. Posisi pabrik VHFDesign ada di Ukraina, bank pada tutup. Pembayaran menggunakan PayPal gagal. Jadi bingung mau membayar lewat apa.

Penjual mengusulkan lewat Western Union. Dari hasil pantuan ternyata banyak outlet WU di sekitar kantor. Ada outlet kantor pos yang bisa ditempuh dengan jalan, ada juga minimarket yang melayani WU. Saya datangi outlet kantor pos tersebut, dan ternyata petugasnya kesulitan memproses pembayarannya.

Percobaan kedua ke kantor pos Kudus, data yang diminta cukup detail mulai dari nama, alamat sampai nomor telepon penerima. Mulailah petugas mengentri data pengiriman uang melalui WU. Proses selesai, penerima sudah siap di outlet WU di Russia, namun apa yang terjadi. Pembayaran gagal, nama tidak dikenal.

Ternyata ada kesalahan entri antara first name dan name, terbalik. Saya ke kantor pos lagi, minta revisi, untungnya bisa direvisi. Alhamdulillah uang terkirim.

Pengiriman PA dari Rusia.

Setelah pembayaran, barang dikirim dari Russia. Nomor resi sudah diberikan, saya tinggal memantau pergerakannya. Semua berjalan normal hingga barang tersebut tiba di Indonesia dan masuk bea cukai. Senang sekali melihat hasil pantuan barang sudah diproses bea cukai. Saya sudah siap-siap untuk membayar bea masuk.

Posisi terakhir barang hendak dikirim ke kantor pos. Saya tunggu munculnya tagihan, namun apa yang terjadi, status barang tidak bergerak, tagihan tidak muncul, pada awalnya sempat muncul sebentar. Perasaan sudah mulai was-was, pasti terjadi sesuai atas barang tersebut. 

Saya hubungi pak Hakim, YB0AN untuk meminta bantuan, karena barang tersebut dikirim ke alamat beliau. Dengan harap-harap cemas meminta bantuan untuk menggunakan segala cara agar barang tersebut bisa keluar dari bea cukai.

Bea cukai meminta Invoice dari penjual. Saya email penjualnya, dia tidak mau mengeluarkan invoice. Ini agak aneh, dari semau transaksi yang pernah saya lakukan, penjualnya dengan mudah mengeluar invoice. Namun untuk penjual yang satu ini bersikukuh tidak mau mengerluarkan invoice. Entah apa alasannya, dan dia bilang itu urusan saya dengan BC.

Saya tetap merayu penjual agak mau mengeluarkan invoice, saya sampaikan bahwa saya akan kehilangan barang tersebut bila tidak ada invoice. Alhamdulillah akhirnya dia mau mengirimkan invoice setelah beberapa lama.

Singkat cerita, setelah beberapa hari proses akhirnya PA 23 cm berhasil keluar dari BC dikirim ke kantor pos untuk selanjut dikirim ke alamat penerima. Alhamdulillah.


Sabtu, 31 Desember 2022

EME 23 cm / 1296 Mhz

Persiapan

Setelah mencoba EME 70 cm tibalah saatnya mencoba EME 23 cm. Ini adalah proyek multi year, dimulai dari November 2021. Memang dari awal direncanakan untuk dibuat secara perlahan-lahan karena minimnya pengetahuan soal dish antenna khususnya untuk 23 cm.

Saya mengirim WA kepada Alex EA8DBM, teman ham dari Canary Island mengutarakan keinginan saya untuk mencoba EME 23 cm. Alex ini orangnya enak, suka membantu saya mulai sejak QSO pertama dengannya di 2 meter pada 1  Juli 2017. 

Saya bertanya kepadanya tentang dish antenna yang bisa digunakan untuk EME 23 cm. Dia langsung menjelaskan kriteria dish antenna yang bisa digunakan, mulai dari f/D sampai feed poin yang bisa dipakai. Belum paham atas penjelasannya namun namun masih bertekad untuk bisa QRV di 23cm. Dan biasanya saya memang ngawur saja untuk mencoba sesuatu, sambil jalan belajar dan belajar, tanya ke sana ke mari.

Untuk EME 23 cm ini cukup banyak perangkat yang harus disiapkan, yang pertama sudah barang tentu antenna dengan gain yang tinggi, kemudian Low Noise Amplifier / LNA, penggerak antenna dan tranceiver yang bisa bekerja pada frekwensi 1296 MHz.

Untuk antenna, yang paling bisa diandalkan adalah dish antenna walaupun ada beberapa stasiun yang hanya menggunakan antenna Yagi, namun sangat jarang. Mau tidak mau harus mulai membaca teori antenna khusunya dish antenna, asal baca saja, mungkin yang masuk ke otak hanya beberapa persen. 

Mulailah mengenal rumus-rumus menentukan focal lenght dari diameter dan kedalaman dish. Kemudian perbandingan antara focal lenght dengan Diameter yang dikenal dengan f/D, sampai disini masih belum paham mengapa orang membuat dish antenna dengan f/D berbeda-beda.

Septum feed RF Hamdesign.

Daripada pusing-pusing mampir saja ke website yang menjual dish antenna 23 cm. Ketemulah RFHamdesign yang menjual kebutuhan dish antenna untuk EME, mulai dari dish kit, feed dish sampai penggeraknya. Semuanya terlihat bagus, hanya harganya saja yang diluar anggaran, sehingga tidak berani memesan.

Namun ada satu komponen yang masih terjangkau yaitu dish feed. Dari berbagai referensi jatuhlah pilihan pada septum feed 23 cm. Barangnya berupa box alumunium berisi dua antenna TX dan RX yang dipisahkan oleh 'septum' ditengahnya. Mengapa tidak bikin sendiri saja? Walaupun ada referensi cara membuatnya lengkap dengan ukurannya secara detail namun karena pengalaman masih nol, jadi tidak berani mencoba bikin. Daripada memakan waktu, lagi pula harganya masih terjangkau.

Akhirnya terbelilah septum feed 23 cm dari RFHamdesign. Barang masuk Indonesia dengan selamat tanpa kendala di Bea Cukai, karena barangnya cuma berupa box alumunium, bagi yang tidak tahu mungkin dikira cuma box wadah sesuatu.

G4DDK LNA

Berikutnya adalah LNA, jelas tidak mungkin bikin sendiri, ribet dan tidak punya alat ukur yang memadai, punyanya cuma multimeter Heles saja. Pilihan jatuh pada LNA bikinan Sam Jewel G4DDK. Pada saat pertama kali main EME 2 meter saya juga beli kit LNA 2 meter darinya. 

Cukup kirim email kepadanya untuk menanyakan ketersediaan barang beserta harganya maka Mr. Sam akhirnya setuju untuk membuatkan sebuah LNA 23 cm untuk saya. Dia minta waktu beberapa minggu untuk merangkainya. Akhirnya setelah jadi, LNA tersebut di kirim ke Indonesia. Seperti halnya septum feed, LNA ini tidak menarik petugas bea cukai untuk meributkannya. Jadi dari pantauan track shipping, perjalan barang ini mulai  masuk bea cukai, diperiksa, kemudian keluar pajaknya berjalan dengan mulus.

Transverter 1.2 GHz SG Lab.

Dua perangkat sudah terkumpul, sekarang mikir tranceivernya karena yang dipunyai cuma mentok di 144 MHz untuk TX nya, kalau RX mungkin masih bisa diakali dengan SDR atau receiver. Browsing ke mana-mana dan juga tanya-tanya kepada pemain EME. Sesuai saran dari  CT1BYM, OM Miguel Pelicano maka transverter 144MHz ke 1296MHz produksi SG Lab menajadi pilihan. Sepertinya transverter ini yang paling terjangkau harganya.

Transverter dari SG Lab ini juga mulus melalui saringan bea cukai. Bea cukai harus menjadi perhatian utama bila hendak mendatangkan barang dari luar negeri, di sinilah titik kritis ketika menerima kiriman dari luar negeri khususnya barang-barang yang mengandung RF.

Dish Antenna

Sambil mengumpulkan perlengkapan di atas, mulailah tahap pembuatan dish antenna atau antenna parabola. Dari awal EA8DBM memperingatkan untuk menggunakan dish antenna dengan f/D yang rendah, masih belum paham mengapa, tapi saya turuti saja. 

Langkah awal adalah mencari referensi sebanyak-banyaknya dan sumbernya cuma 1 yaitu internet. Tidak ada rekan amatir lokal yang pernah mencobanya. Dari RFHamdesign didapat beberapa referensi ukuran dish dan pilihan jatuh pada dish dengan diameter 4.5 meter dengan f/D 0.45.

RFHamdesign menjual dish antenna lengkap dengan segala akseorinya seperti dish feed, bracket dan penggeraknya. Masalahnya cuma satu, harganya luar biasa dan tentunya ongkirnya akan sangat mahal, belum lagi nanti pajaknya.

Pengerjaan dish antenna saya serahkan pada Pak Azis, YC2JIS di Daren Jepara yang mempunyai bengkel stainless steel. Gambar saya kirimkan kepadanya dan disanggupi akan dikerjakan kalau sepi order, karena ini memang bukan pekerjaan utamanya.


Bersambung...





Kamis, 06 Oktober 2022

Nested 2 meter yagi in 6 meter yagi.

Aku tidak tahu apakah judulnya sudah benar. Intinya aku telah memasang antenna 4 bay yagi 2 meter band di dalam yagi 4 bay 6 meter. Jadi di tengah yagi 4 x EF0607 terpasang 4 X EF0213M sehingga dalam satu tiang terdapat 2 set yagi 4 bay, 2 meter dan 6 meter band.

Rencana pemasangan 2 band antenna dalam satu tower berawal dari keinginan untuk memasang kembali antenna 2 meter band untuk EME yang sudah lebih dari 2 tahun rusak dihantam badai. Kalau harus memasang tiang baru untuk 2 meter band rasanya sangat ribet.

Aku menghubungi YU7EF via email mengutarakan rencanaku tersebut dan dia menyanggupi untuk melakukan analisa dengan software yang dia miliki. Singkat cerita, setelah beberapa hari dia mengirim email berita gembira bahwa apa yang aku inginkan bisa direalisasikan. 

Dia sampaikan bahwa hasil analisa dengan software menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan terhadap karakteristik kedua band baik 6 maupun 2 meter, baik itu SWR, pattern maupun gain. Semuanya masih pada kondisi wajar.

Mulailah aku mengumpulkan bahan untuk membuat antenna EF0213M, antenna 2 meter band 13 elemen yang dirancang untuk EME. Ini adalah antena 4 WL baru yang dirancang dengan parameter yang hampir seimbang.

Dibandingkan dengan antena EF0213, antena ini memiliki suhu beberapa derajat Kelvin yang lebih tinggi dan lobus samping yang sedikit tertekan sementara masih memiliki penguatan yang sama. Perbedaan utama adalah Q antena yang sangat rendah sehingga kinerja pita sangat lebar yang membuatnya jauh kurang sensitif terhadap pengaruh sekitar serta kondisi cuaca. Desain antenna ini sangat baik untuk konstruksi X-POL.

                            

YB2MDU Array - 4 x EF0607 + 4 x EF0213M










Pada tahap awal, aku merangkai 1 unit EF0213B untuk percobaan. Design aslinya menggunakan folded dipole untuk driven elemennya, namun aku masih ingin menggunakan driven element antenna lama yang menggunakan T Match namun ada kendala pemasangan bracket. Akhirnya aku coba menggunakan driven elemen dipole dengan rf choke untuk percobaan pertama.




EF0213B dengan driven elemen dipole.


Hasil pengukuran SWR.


Hasil pengukuran SWR sangat mirip dengan hasil perhitungan software. Namun ada sedikit kekurang puasan yaitu konstruksi yang membutuhkan banyak bracket yang menambah bobot antenna. Maunya antenna dibuat seringan mungkin agar tidak membebani rotator nantinya. 

Kalau antenna dibuat tanpa bracket elemen maka pilihan yang paling memungkinkan adalah memasang elemen menembus boom. Konstruksi ini sangat tidak cocok bila menggunakan driven elemen dipole, karena susah membuat bracketnya.

Akhirnya pilihan pada driven element folded dipole, alasannya cuma satu, mudah memasangnya karena hanya membutuhkan 2 buah bracket saja. Kalau mau repot bisa saja folded dipolenya dibuat bisa diatur panjangnya untuk mendaptakan SWR yang terendah, namun saya tidak mau repot. Jadilah pakai folded dipole dengan 1 ukuran saja.







Minggu, 08 Agustus 2021

Q65 Mode on 6 meter EME

Setelah antena 4 X 7 element selesai dipasang maka tibalah saatnya untuk mencoba. Saya hubungi W6UC, Phill untuk melakukan percobaan. Awalnya dia enggan karena aku hanya menggunakan power 300 watt. Mungkin dia mengira percobaan ini tidak akan berhasil, apalagi degradasi hari itu cukup tinggi.

Namun setelah kuyakinkan bahwa aku hanya ingin menguji apakah antena baru ini bisa bekerja, dia baru mau mencobanya. Dia minta waktu 45 menit untuk persiapan, karena stasiunnya berjarak 300 meter dari rumahnya. Setelah 40 menit dia menyatakan siap berkomunikasi dengan mode Q65-60A, mode terbaru dari WSJT-X v2.4.0 yang belum pernah kucoba sama sekali. Kupikir ini tidak berbeda jauh dari JT65, tinggal pilih mode, sub mode = A dan T/R = 60 detik. Q65-60A maksudnya mode Q65 dengan waktu pertukaran 60 detik dan sub mode A.

Dan akhirnya sinyal W6UC terdekode dengan sangat kuat, -20dB. Demikian juga Phil bisa mendekode sinyal yang aku kirimkan padahal hanya menggunakan power kecil, 300 Watt. Sangat menggembirakan, antenna baru bekerja dengan baik, untuk mengirim maupun menerima.


Selanjutnya percobaan QSO dengan WA5VGI, cukup mencengangkan, sinyalnya terdekode -31 dB, sangat sensitive, bisa mendekode sinyal yang lemah sekali. Kesan pertama yang kutangkap dari mode Q65 adalah kemampuannya mendekode sinyal di bawah -30 dB. Di kemudian hari, aku bisa mendokode sampai -34 dB.

Ternyata ada pilihan pada WSJ-X v2.4.0 untuk mode Q65 yaitu  kotak Sh yang bila tidak dicentang maka message Tx4, Tx5 dan Tx6 akan muncul message seperti pada mode FT8. Sebaliknya bila dicentang maka Tx4 akan menjadi "RRR", Tx5 menjadi "73 dan Tx6 adalah tune.


Message yang muncul bila kota Sh di check


Message yang muncul bila kotak Sh di uncheck.

Kesimpulannya, Q65 sangat cocok untuk komunikasi Earth Moon Earth khususnya pada 6 meter band karena sanggup mendekode sinyal yang sangat lemah, melampaui mode JT65 yang biasa digunakan untuk EME.


Yagi 4 x 7 elements EF0607 for 6 meter EME

Berikut adalah progress pemasangan antenna 4x7 elemen EF0706 6 meter band full elevation yang memakan waktu cukup banyak.


Antenna EF0607 yang didesain oleh YU7EF mempunyai gain 12.75 dBi. Bila dipasang 4 buah akan mendapatkan gain sekitar 18 dBi, angka yang cukup untuk komunikasi Earth Moon Earth. Tower setinggi 12 meter dan antena yang berdimensi cukup besar menyebabkan pemasangan antenna cukup rumit. Sementara hanya tersedia alat bantu yang sederhana yaitu scaffolding. Seandainya ada mobil crane tentunya akan lebih mudah pemasangannya.

Tenaga pemasangan hanya dua orang, satu di atas satunya di bawah. Membutuhkan beberapa hari untuk menyelesaikan pemasangan antena 4 X 7 ini. Banyak trial & error karena minimnya pengalaman dan tanpa perhitungan mendetail, semua dikira-kira dengan melihat contoh gambar di internet.



Pada posisi di atas, elevasi tidak bisa maksimal bahkan tidak bisa dikembalikan ke posisi semua, namun azimuth berputar normal. Kemungkinan tegangan DC drop sampai di rotator sehingga tidak mampu mengangkat boom. Solusinya mencari PSU dengan tegangan yang lebih tinggi, alhamdulillah pak Sondong berhasil mendapatkan pinjaman PSU 24 volt dan akhirnya elevator berhasil menggerakkan boom, namun belum bisa sampai 90 derajad. 

Masih menduga bahwa tegangan DC masih belum cukup untuk menggerakkan elevator sampai penuh, maka kabel DC dipotong 5 meter. Ada kenaikan sudut elevasi dari 50 menjadi 75 derajat, sudah lumayan.

Konsultasi dengan Phil, W6UC karena dia menggunakan rotator yang sama, katanya kuncinya adalah pada keseimbangan beban. Saat percobaan, antenna terpasang baru 2 unit, jadi beban masih terpusat di bawah rotator. 






Setelah antenna terpasang 4 unit alhamdulillah, elevasi bisa full 90 derajat. Benar kata Phil, kuncinya ada di keseimbangaan. Walaupun 4 unit lebih berat namun ternyata elevator mampu mengangkatnya.




Antenna sekarang siap digunakan mulai bulan terbit sampai dengan bulan terbenam pada azimuth dan elevasi berapapun. Sudah tersedia antenna controller yang compatible dengan PSTRotator yang akan secara otomatis mengarahkan antenna mengikuti posisi bulan.


Sabtu, 06 Juni 2020

IC-9100 Error

Pagi ini saya mencoba QRV pada frekwensi 50.313 Mhz, alokasi untuk mode FT8. Seperti biasa, nyalakan PS kemudian radio IC-9100 bersamaan dengan booting laptop. Dilanjutkan menjalankan WSJT-X 2.2.0 yang merupakan update terbaru, baru saja semalam terinstall. Semua berjalan lancar sampai pada prosedur rutin, check pemancar.

Setelah PA dinyalakan, click tombol tune pada WSJT-X, TX on, semua normal namun power tidak keluar. Tidak terdengar tone seperti biasanya...Check setting semua normal. Coba hard reset IC-9100, tidak berjalan mulus, di layar hanya muncul 'clone' di pojok kiri bawah, setelah dimatikan dan dinyalakan lagi, radio sudah ter-reset.

Kembali mencoba jalankan tune...TX normal tapi tone tidak terdengar. Otak-atik menu, setting sudah benar. Coba lagi reset pesawat, muncul lagi 'clone' di pojok kiri bawah, Namun kali ini setelah pesawat dimatikan kondisi tidak berubah. Pesawat hang...hanya muncul tulisan 'clone'.

Segera saja browsing ke grup IC-9100 sekalian download repair manual. Tak menemukan jawaban di grup. Bingung..Akhirnya  cabut kabel power jadi pilihan, pilihan ngawur sebenarnya. Kemudian kabel power ditancapkan lagi dilajutkan tekan power ON. Alhamdulillah....radio nyala kembali dengan normal.

Coba lagi jalankan WSJT-X, tekan tone, TX normal namun masih juga belum keluar tone. Ganti dengan MSHV, sama nasibnya. Kemudian ganti nyoba DM780 bawaan HRD, TX normal namun masih juga belum keluar modulasi.

Pilihan berikutnya, reinstall driver IC-9100, walaupun di PC sudah ada namun pilih mendownload lagi. Mengikuti petunjuk dari Icom, driver lama di uninstall...dilanjutkan reinstall driver. Proses lancar. Uji coba lagi dengan WSJT-X, tekan tune...memancar dan keluar tone. Alhamdulillah, semua kembali normal. Segera reinstall WSJT-X 2.2.0.

Kesimpulannya, error ada pada driver soundcard IC-9100, pernah terjadi setelah update windows, kemungkinan hal yang sama terjadi lagi. Cabut power cord menjadi alternatif bila pesawat hang.

Rabu, 01 April 2020

First EME 6 meter Indonesia - USA

Setelah mencoba berbulan-bulan akhirnya malam ini terjadi komunikasi lengkap JT65A melalui pantulan bulan atau Earth Moon Earth , EME, antara YB2MDU dan W7GJ di USA.Sebenarnya dari beberapa kali percobaan hampir 99% sinyal W7GJ selalu bisa terdekode, namun dia hanya berhasil mendekode sinyal YB2MDU satu atau dua kali saja.

Percobaan QSO diawali dari bulan Februari 2017, waktu itu antenna 6 meter masih terpasang sejajar di atas antenna tribander 10 meter, 15 meter dan 20 meter pada tower setinggi 18 meter. Percobaan pertama gagal, lantas W7GJ menyarankan agar antenna 6 meter di pasang dengan arah 90 derajat berbeda dengan antenna tribander.

Perubahan antena tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya putuskan menurunkan antenna dan memindahkannya terpisah dari antenna tribander. Dengan ketinggian sekitar 7 meter dari atas tanah,   antenna 7 elemen yagi YU7EF 0607 siap digunakan. Arah antenna diputar secara 'ototer' karena antenna hanya akan bekerja saat Moon Rise atau bulan terbit dan Moon Set atau bulan terbenam.

27 November 2018 adalah saat pertama sinyal W7GJ bisa terdekode. Sinyalnya lumayan kuat -25 db. Namun sayang dia tidak berhasil mendekode sinyal YB2MDU. Percobaan demi percobaan dilakukan, cukup mudah menerima sinyal W7GJ namun karena saya hanya memancar 100 watt, dia belum berhasil mendekode sinyal yang kukirim.

W7GJ berinisiatif mengirimkan power amplifier dari USA. PA ini mampu mengeluarkan daya sampai dengan 300 watt. Menggunakan DHL kiriman tersebut segera sampai di Jakarta, terlacak di web bea cukai kiriman tersebut tertahan. Saya coba minta tolong YB0AN, Pak Hakim, untuk menanyakan ke bea cukai, jawabnya mencengangkan, bea yang harus kutanggung 15 juta rupiah.

Saya bilang ke Lance bahwa tidak mungkin membayar bea masuk sebesar itu, lagian ini barang bekas. Untungnya PA ini diasuransikan, artinya kalau tidak sampai ke alamat tujuan maka barang tersebut akan dikirim kembali ke pengirim. Saya kirim email ke bea cukai bahwa saya tidak membutuhkan barang tersebut. Akhirnya benda itu balik lagi ke Amerika.

Muncul ide untuk memperpanjang boom, kali ini saya coba 0610 design YU7EF, sempat juga kirim email kepadanya untuk konsultasi. Antenna ini panjang boomnya 15 meter dengan 10 elemen terpasang pada ketinggian sekitar 8 meter.

Singkat cerita dengan antenna sepanjang 15 meter ini, W7GJ masih juga belum bisa mendekode sinyal yang saya kirim. Kesimpulannya masih sama, kekurangan power, walaupun gain antenna sudah ditambah namun power 100 Watt belumlah cukup. 

Akhir desember 2018, saya order PA 50 Mhz kepada YB2XI, Pak Nur di Jogja. Design menggunakan BLF188XR. Beruntung mendapatkan 2 buah dengan harga cukup murah di eBay. Namun sayang keduanya meletus...gagal. Kemudian dicoba menggunakan MRF150, namun lagi-lagi gagal, LPF berasap dan power tidak bisa mencapai yang diinginkan. 

PA 50 MHz memang jarang digunakan di Indonesia, beberapa kali tanya teman barangkali ada yang punya namun tidak menemukannya. Paling yang ada hanya PA built up HF + 6 meter yang cukup mahal.

Pertengahan  Juli 2019, muncul ide menggunakan tabung. Jatuhlah pilihan pada GS35B. Searching di pasar lokal, harganya cukup mahal. Mencoba menghubungi teman di Eropa barangkali ada barang murah di sana. Lewat bantuan EA8DBM, Alex, pada akhir Desember 2019 saya memesan dua buah GS35B. Kebetulan dia sedang jalan-jalan ke Rusia, ada temennya yang jualan di sana. Harganya jelas lebih murah daripada di Indonesia.


Sambil menunggu kiriman GS35B datang, ada khabar baik dari Jogja, dengan palet baru, PA siap di uji coba. Meluncurlah saya ke Jogja seperti beberapa kali saya lakukan. Dari rumah membawa IC-9100 untuk uji coba. Sesampai di sana segera melakukan uji coba. Alhamdulillah, power keluar 500 Watt stabil, tidak ada yang mengeluarkan asap. 

14 Januari 2020, pukul 15.14 UTC atau 22.14 WIB, saat yang ditunggu-tunggu datanglah. Antenna sudah mengadap ke timur menuju arah bulan terbit. Tiba-tiba muncullah trace pada waterfall pada 14.50 UTC, elevasi bulan sekitar 8 derajad. Double klik pada trace tersebut...Alhamdulillah, W7GJ mengirim message 'OOO' yang menandakan dia telah menerima panggilan saya.

Selanjutnya saya kirimkan message 'RO' sebagai balasan bahwa "OOO" dari W7GJ telah terdekode. Sebenarnya sampai di sini komunikasi EME telah dianggap sukses. Namun umumnya harus diakhiri dengan mengirim message "73". Beruntung, baik saya maupun W7GJ sukses mengirimkan "73".

Saya rasa ini adalah kejadian pertama komunikasi EME 6 meter antara Indonesia dan USA. Kalau mengunakan pantulan ionosfir barangkali sudah pernah terjadi, hanya saja saya belum menemukan datanya. Hari-hari selanjutnya, mulai masuk beberapa email, mengajak melakukan QSO 6 meter melalui EME. Sebagian ajakan terpenuhi dan berakhir sukses, baik itu di benua Amerika saat bulan terbit maupun di benua Eropa saat bulan menjelang tenggelam.

Antenna masih belum optimal karena hanya bisa dipakai saat bulan terbit dan tenggelam. Mengarahkannyapun masih manual, dengan petunjuk kompas dan software penunjuk posisi bulan.. Ke depannya antenna mesti dibuat bisa memutar dan mendongak secara remote.